Ali Harsojo

Saya adalah pribadi yang sangat sederhana dilahirkan di kota kecil Sumenep, Madura. Suka berkolaborasi dan bersinergi. Selalu ingin mencari tahu setiap ilmu yan...

Selengkapnya
Navigasi Web
Puasa Pertama Si Ujandheras yang Cerdas

Puasa Pertama Si Ujandheras yang Cerdas

Puasa Pertama Si Ujandheras yang Cerdas

Tantangan 365 Gurusiana Hari Ke-130

#TantanganGurusiana

Aku sengaja hari terakhir puasa, mengulas cerita pertama si Ujandheras berpuasa Ramadan ini. Sebab, tanpa jeda, ia berpuasa penuh hingga hari terakhir ini. Alhamdulillah..

Sejak beberapa hari sebelum Ramadan tiba, yang aku pikirkan hanyalah si bungsu, Ujandheras. Ia adalah nama pendek anak bungsuku. Nama panggilannya Uzwah. Nama lengkapnya adalah Uzwah Zammiluny Ujandheras Zamzamy Fy Azizurohmatillah. Uzwah adalah anak yang cukup cerdas. Ia peka terhadap situasi sekitar. Termasuk peka terhadap perkembangan musibah corona yang melanda. Mungkin saja infomasi itu ia sering dapatkan dari televise yang ia tonton.

Jika, kuajak ke luar rumah untuk sekadar jalan-jalan, biasanya ia mengenakan masker. Maka, kekhawatiranku bukan pada virus corona yang dapat menjangkiti, tetapi bagaimana jika Uzwah tidak bisa belajar berpuasa. Meski usianya baru 7 tahun, tetapi sebagai orang tua perlu dan wajib mengenalkan puasa Ramadan sebagai kewajiban.

Perlu diketahui, si Ujandheras ini ditakdirkan Allah dilahirkan di pinggi jalan raya depan rumah, pada saat mamanya hendak menuju klinik bidan. Ternyata berjalan menuju mobil yang menunggunya di jalan, tidak kuat lagi. Ambruk, bersimpuh kesakitan dan Allah menakdirkan ia melahirkan di pinggir jalan di bawah guyuran hujan deras. Darah, air ketuban, tangis, dan bahagia berpadu di tengah derasnya hujan di pagi itu. Termasuk si bayi pun, mandi hujan deras, bersama mama dan dua anak kecilku lainnya yang membantu. Aku, masih berada di pulau, tempat tugasku mengajar. Aku tersayat sembilu, hanya mendengar tangis isrtiku dari telepon seluler.

Maka, Allah memberi si Ujandheras beberapa keistimewaan menurut kami. Ia cukup tahan dingin. Kesukaannya, tidur di lantai tanpa alas, menggunakan kipas dan tanpa baju. Bahkan, ia senang tiduran di lantai yang lembab atau sedikit basah. Allah juga memberi keistimewaan daya ingat dan pikirnya yang cukup cerdas. Ia seringkali mampu menganalisis pembicaraan orang dewasa, seperti: tentang masakan di dapur, berbelanja di pasar, cerita tentang corona, dan termasuk pemahaman Ramadan yang seringkali kami ajarkan.

Tetapi, juga terdapat beberapa kekurangannya yang justru unik, misalnya, mudah ngambekan, ingin lebih banyak mendapatkan bagian kue, dan sering mengabaikan kesehatannya, karena tidurnya seringkali di lantai yang lembab. Ia penyayang kucing, binatang peliharaan yang umum disukai banyak orang.

Pada malam pertama salat tarawih di rumah, aku menanyakan saja kepada Uzwah tentang keputusannya besok, puasa atau tidak. Semacam uji mental dan psikisnya, lah.

“Dik Uzwah, bagaimana dengan puasa besok. Kalau berpuasa, tidak makan seharian, apa bisa?” tanyaku seraya membujuk.

”Ya, mau. Tapi belikan kue dan baju,” jawabnya pendek sambil mendekat ke pangkuan mamanya di musala.

Sungguh tidak kuduga. Jawabannya membuat kami senang dan haru. Sebab sejak pertama kami mengenalkan puasa kepada kakak-kakaknya, mereka juga selalu siap. Malah, si Luring, kakaknya berpuasa penuh sejak duduk di bangku TK kelas B. Kebiasaan kakaknya yang positif tentang bagaiamana ia memulai berpuasa dan bertahan dari lapar dan dahaga di siang hari, aku ceritakan kepadanya. Tujuannya adalah agar ia juga termotivasi untuk melaksanakan ibadah puasa.

Mulailah aku mencari cara agar nanti waktu sahur bisa melaksanakan makan sahur dengan nikmat. Makanan kesukaannya disiapkan. Beberapa minuman alamiah juga disiapkan untuk menjaga stamina dan imunitas tubuhnya.

Waktu sahur pun tiba. Ia dibangunkan perlahan. Kendala pasti ada. Ia tidak langsung bangun. Masih susah membuka mata. Tetapi, kami terus membujuknya, hingga ia bisa bangun, meski dalam keadaan lusuh dan mengantuk. Cara pertama kulakukan, ia harus minum minuman alamiah dulu, untuk merangsang kantuknya agar hilang dan segar. Berhasil. Cara kedua, kami beri kue. Wafer kesukaannya. Lahaplah ia menyantapnya. Barulah ketika ia tidak mengantuk lagi, mamanya memberikan makanan sahur.

Malam pertama sahur, kami mencoba membiarkan ia makan tanpa disuap. Meski tidak tega rasanya. Tetapi, ia harus bisa belajar mandiri. Ia menyantap makanan sendiri di depan TV, berdua dengan kakaknya. Sementara yang lainnya, menyantap menu sahur di meja makan, di dapur.

Rupanya, si Uzwah menyukai susu kambing. Formula susu kambing madu atau gula batu. Memang lezat rasanya. Sambil menunggu azan subuh, ia menonton siaran televisi. Film kartun kesukaannya. Atau acara hikmah Ramadan. Subuh, ia berusaha kami ajak salat berjamaah. Barulah setelah salat subuh, ia melanjutkan tidurnya. Tentu saja, bangunnya agak siang.

Tetapi, Uzwah adalah anak seperti kebanyakan anak-anak lainnya. Masih saja ada beberapa waktu salat yang ia tidak ikut salat berjamaah. Terutama salat subuh, kadang dikalahkan dengan kantuknya.

Siang hari, cukup terik. Mungkin saja ia merasa lapar dan haus.

“Yah, azan berbuka masih lama?” tanyanya polos.

“Sabar, dik. Tidur siang dulu. Setelah salat Asar, kita jalan-jalan beli kue untuk berbuka,” pintaku. Sekali lagi, cara yang jitu. Berhasil. Ia kembali menonton televise hingga terlelap, tidur.

Barulah menjelang sore, setelah salat Asar, kuajak ia keliling kampung saja, jalan-jalan. Laju sepeda motorku sengaja dipelankan. Mengulur waktu hingga mendekati waktu berbuka puasa.

“Dik, ayo pilih minta kue apa aja,” kataku padanya saat kuhampiri toko swalayan.

“Yah, mau ini, ini, ini yaa..” katanya menunjuk beberapa kue atau snack di rak kue dalam swalayan.

Kubiarkan ia hatinya senang sesuka hati memilih kue kesukaannya. Harapanku ia juga bisa menjalani puasa Ramadan dengan senang, tanpa paksaan dan bisa kuat bertahan seharian. Rupanya, cara yang kutempuh berhasil. Ia terus mampu berpuasa pada hari-hari berikutnya, tanpa jeda.

Kebahagiaan kami dalam menjalani bulan puasa, seakan lupa tentang corona. Sebab, aku meyakini bahwa dengan kita bahagia dan senang, maka imunitas tubuh akan meningkat. Apalagi senantiasa mengonsumsi herba almiah, dari alam sekitar. Jika imunitas tinggi, insyaAllah virus tidak bisa menjangkiti tubuh kita. Husduzan billah. Begitu pula Uzwah dan kakak-kakaknya, harus ikhlas dan senang menjani ibadah puasa ini. Agar senang dan imunitas tidak berkurang. Alhamdulillah, khususnya hari pertama puasanya, si Ujandheras melaluinya dengan baik, tanpa kendala berarti.

Semoga si Ujandheras, Uzwah dan anak-anaku yang lain selalu menjadi anak yang salih-salihah. Doa kami dalam setiap kesempatan. Amin.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

search

New Post